Kita, Saling Meracuni

Suatu saat nanti, kuharap kita bisa berhenti untuk saling meracuni. Tentang hal-hal yang aku dan kau saling pelihara dalam sembunyi, tentang sesuatu yang susah payah kita simpan selama ini.
Kita tak akan pernah saling menaklukkan. Kita tak akan tega melakukannya, bukan? Tapi laiknya kita tahu, kita selama ini terlalu lama bercanda dengan segala kemungkinan, berharap bahwa kedekatan ini hanyalah lelucon yang pada akhir kisahnya dapat ditertawakan.
Tidak, kubilang. Bila terus begini, bisa jadi salah satu diantara kita akan jadi korban. Akan datang ombak yang meluluh-lantakkan seluruh batu karang, yang selama ini kita selalu banggakan sebagai pertahanan terbaik sepanjang jaman. Terjebaklah sudah nantinya kita pada ruang hampa, begitu sulit mendefinisikan rasa yang datang ini apa dan bagaimana seharusnya. Bahkan, kita akan repot untuk memikirkan segala langkah di depan nantinya.
Kita yang sama-sama lalai. Kedekatan akan semakin melonggarkan jarak yang teruntai. Bahwa, nanti di depan akan datang badai yang akan menghapuskan seluruh kesombongan dan keengganan kita untuk saling mengakui perasaan. Tapi aku sendiri belum siap untuk jatuh cinta lagi, begitupun denganmu kan?
Lalu sampai berapa lama lagi kita akan menyembunyikan perasaan ini? Aku merasa jujur bahwa kedekatan ini meracuniku, tapi aku harus bagaimana lagi? Bisa jadi sebab kedatanganku bisa membuat kau terluka pada akhirnya, tapi apa dayaku untuk membendungnya?
Teruslah begini, sampai kita sadar bahwa kita sudah terlalu lama untuk saling meracuni.

kata, hujan; basah di atas kepala

kata-kata menari di kepala
melompat-lompat, bergembira
bibir tetap terkatup, tak mau angkat bicara; mengeluarkan mereka yang sedang bergembira
sebab tak ada telinga atau mulut lainnya, yang siap mendengar atau mengalahkan kata-katanya.
sepasang mata memandang jauh
hujan baru saja datang, suara ramai sekali
namun, suara di kepala tak mau kalah
titik-titik hujan semakin ramai menghujam tanah, membentuk gaduh berteman deru angin yang tiba-tiba datang
sang kata bersamaan berteriak meminta perhatian;
“keluarkan aku, biarkan aku bergabung dan bermain bersama hujan.”
-Shinohanna-

Pada Genggam

Bak Pangeran yang gagah dan tampan

Aku Putri yang kuat dan elegan

Berusaha menggenggammu dengan nyaman

Erat

Kamu tercekat

Reda

Aku mendamba

Sulit dimengerti

Pasti

Memahami,

Membaca, dan

Menjaga

Aku berusaha

Lalu lepas

Jauh dan bebas

Diam

Cukup dinikmati

Tidak

Jangan diraih

Hanya saja

Dinanti

Sampai hukum gravitasi menyumpahi

Pada genggamku kamu kembali

Rifle

Memori

baru saja kutemukan
tiap ketukan, tiap jenjang ingatan
tiap irama, satu suara kita
hanya saja, aku lupa bagaimana dan harus apa
dirimu tak kutemui di tiap jadwal latihan
hingga rupamu, rupaku, rupa-rupanya pura-pura lupa
hingar-bingar lampu malam, membentuk bayang-bayang begitu banyaknya
mungkin sedikit yang tahu, yang memperhatikan, ketika cahaya menelan tiap bayang diri kita!
satu detik berlalu
baru saja kutemukan
dan aku lupa ingatan
-Shinohanna-

Lembar Ingatan

Lembar Ingatan
Rinduku pada tiap detik kita jumpa dan latihan senja hingga malam tiba.
Ketika lainnya terlelap dalam seribu satu mimpi.
Entah aku yang tak bisa tidur atau hanya hendak mendengar secuil tawa darimu.
Tangismu dengan tiap kesalahan yang kita buat bersama.
Kesalmu ketika satu bar pun tak dapat kita temu.
Malam ini hujan, tak begitu deras. Hanya saja suaranya mampu mengisi keheningan tengah malam.
Aku matikan lampu, berharap cahaya takkan bisa menggangguku menikmati rindu.
Baru saja aku bersajak, tapi agaknya para pencinta hujan tak mau ketinggalan.
Kudengar, satu dua dari mereka bernyanyi, lalu serempak mereka mulai mengisi suara musik hujan malam ini.
Masih kudengarkan lagu Gending kita
Nyawa dan suara di setiap baris birama
Aku ingat untuk mendapatkan nadinya Ketika split dan tempo tak karuan
Terdengar teriakan:
 “Beat satu batt!”
Yah, akhirnya kantukku mulai mengetuk.
Lewat sebuah pintu yang sudah tersedia untuk dijelajahi, jadi cukup sampai di sini.
Rinduku dan secangkir kopi tak lagi bersamaku.
-Shinohanna-