TEAMWORK: KAMU ITU PENTING!

Marching Band merupakan sebuah tim yang terdiri dari banyak individual untuk menampilkan musik dan visual. Dalam marching band, ada sebuah section yang memiliki anggota terbanyak, yaitu Brass. Semakin banyak orang, maka semakin sulit untuk menyatukan pikiran, bukan? Bagaimana dengan brass, yang terbagi menjadi beberapa sub-section yaitu high, middle, dan low brass? Pada artikel kali ini,  Humas MB UNS mewawancarai tiga narasumber terpercaya secara eksklusif, sebut saja Bapak, DC, dan PywareMan.

Pertanyaan pertama adalah mengapa setiap orang dibutuhkan dalam marching band? Bukankah anggota marching band sangat banyak, sehingga jika satu orang tidak ada maka tidak masalah?

Bapak berkata, jika ditanya apakah satu orang tidak hadir tidak apa-apa maka bisa dibilang tidak apa-apa, namun yang menjadi apa-apa adalah ketika kita mempertimbangkan efek dari ketidakhadiran salah satu komponen dalam latihan ternyata sangat berpengaruh besar terhadap banyak tujuan yang ingin dicapai.

DC menjelaskan, kalau marching band tidak hanya tentang musik dan display, tapi juga tentang pendidikan, seperti bagaimana belajar bertanggungjawab dan bekerjasama. Lalu, bagaimana caranya tim tersebut dapat terbentuk jika ada seseorang yang tidak menempati posisinya. Misalnya dalam tim olahraga seperti sepak bola, voli, atau basket, yang dimainkan dengan jumlah tertentu. Jika ada satu orang yang hilang dan tidak menempati posisinya, tentunya akan menambah beban untuk anggota tim yang lain.

Kemudian PywareMan menyampaikan, dalam marching band anggota dituntut untuk satu komando dan satu suara. Cara berjalan diatur, semua diatur. Sehingga jika salah satu orang tidak ada, maka akan berpengaruh secara mental terhadap anggota yang lain.

Lalu bagaimana dalam bidang teknis? Pertanyaan ini mungkin lebih fokus terhadap section brass, karena brass adalah section dengan anggota terbanyak.

Menurut Bapak, secara teknik semua komponen dapat dipastikan mencapai target materi dengan latihan yang sesuai. Namun karena marching band adalah satu kesatuan, maka semua bentuk kegiatan yg tercipta didalamnya sudah pasti dibuat untuk dicapai dan dijalani bersama. Jadi kalau satu orang tidak datang mungkin tidak apa-apa, tapi untuk latihan selanjutnya semua orang yang telah hadir sebelumnya akan merelakan latihan untuk mengulang materi demi orang yang tidak hadir dalam latihan. Target akan mundur, tidak tercapai sesuai waktu yang diharapkan karena harus mengulang-ulang materi yang sama.

Lalu menurut PywareMan dari segi teknis lapangan, satu manusia itu berpengaruh di lapangan, terlebih dalam hal visual. Visual di lapangan membutuhkan banyak orang. Jikalau musik ada hal yang disebut lip-sync, visual tidak bisa di-lip-sync-kan. Marching band membutuhkan kuantitas. Semakin banyak kuantitas semakin baik. Misalnya saja komposisi brass 60 orang dengan brass 40 orang akan terasa berbeda dari segi musikalitasnya juga. Namun secara kualitas tidak bisa ditentukan berdasarkan kuantitas. Yang jelas, tiap-tiap orang menentukan kualitas satu section tersebut.

Kemudian menurut DC, setiap arranger atau musisi memiliki aturan standar untuk jumlah orang dalam komposisinya. Misalnya saja trumpet di set untuk dimainkan oleh 18 orang dengan pembagian 6-6-6. Ketika satu orang tidak ada, maka komposisinya akan berubah menjadi 6-6-5 dan  keseimbangannya akan berantakan. Beda halnya jika memang sudah dilatih untuk komposisi 6-6-5, mungkin keseimbangannya bisa dilatih dari awal dengan diakali untuk sub-section yang hanya ada lima orang agar menaikkan volume suaranya.

Adakah kata-kata yang ingin disampaikan kepada anggota tim yang sedang berproses?

PywareMan menyampaikan, di Marching Band Sebelas Maret ada slogan “esprit de corps” sebagai pemersatu. Slogan yang artinya rasa bangga, semangat juang, dan loyalitas terhadap tim harus diterapkan sebagai jati diri bersama.

Bapak berkata, kehadiran seseorang bisa menjadi tidak berarti apa-apa atau bahkan bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi apa-apa. Ketidakhadiran yang tidak jelas terutama akan menularkan virus yang sama. Mengakibatkan orang yang sedang dalam proses latihan juga terpengaruh. Mungkin akan ada beberapa pemikiran yang berbeda dari setiap orang yang hadir dalam proses latihan. Bisa jadi orang tersebut berpikir, ‘enak ya gak latihan, disini yang latihan capek capek eh dianya enak enakan main.’ Adapula mungkin yg berpikir positif. Namun pemikiran tersebut tidak akan tercipta jika ketidakhadiran seseorang jelas keterangannya. Tidak menimbulkan asumsi-asumsi.

Jadi kalau mau tidak hadir ya mungkin bisa berpikir dulu. Setelah berpikir, lalu pikirkan lagi. Setelah dipikirkan lantas pikirkan lagi. Pokoknya pikir aja terus. Apakah sudah pantas tidak hadir latihan dengan memikirkan banyak pertimbangan efek efek yang akan timbul kedepannya. Berkaca juga mungkin ya. Kalau ingin meninggalkan latihan, coba dipikir saat kita latihan apakah kita juga mau ditinggalkan.

“Udah cukup kenangan aja yang pergi, kamu jangan.”

Kita, Saling Meracuni

Suatu saat nanti, kuharap kita bisa berhenti untuk saling meracuni. Tentang hal-hal yang aku dan kau saling pelihara dalam sembunyi, tentang sesuatu yang susah payah kita simpan selama ini.
Kita tak akan pernah saling menaklukkan. Kita tak akan tega melakukannya, bukan? Tapi laiknya kita tahu, kita selama ini terlalu lama bercanda dengan segala kemungkinan, berharap bahwa kedekatan ini hanyalah lelucon yang pada akhir kisahnya dapat ditertawakan.
Tidak, kubilang. Bila terus begini, bisa jadi salah satu diantara kita akan jadi korban. Akan datang ombak yang meluluh-lantakkan seluruh batu karang, yang selama ini kita selalu banggakan sebagai pertahanan terbaik sepanjang jaman. Terjebaklah sudah nantinya kita pada ruang hampa, begitu sulit mendefinisikan rasa yang datang ini apa dan bagaimana seharusnya. Bahkan, kita akan repot untuk memikirkan segala langkah di depan nantinya.
Kita yang sama-sama lalai. Kedekatan akan semakin melonggarkan jarak yang teruntai. Bahwa, nanti di depan akan datang badai yang akan menghapuskan seluruh kesombongan dan keengganan kita untuk saling mengakui perasaan. Tapi aku sendiri belum siap untuk jatuh cinta lagi, begitupun denganmu kan?
Lalu sampai berapa lama lagi kita akan menyembunyikan perasaan ini? Aku merasa jujur bahwa kedekatan ini meracuniku, tapi aku harus bagaimana lagi? Bisa jadi sebab kedatanganku bisa membuat kau terluka pada akhirnya, tapi apa dayaku untuk membendungnya?
Teruslah begini, sampai kita sadar bahwa kita sudah terlalu lama untuk saling meracuni.

kata, hujan; basah di atas kepala

kata-kata menari di kepala
melompat-lompat, bergembira
bibir tetap terkatup, tak mau angkat bicara; mengeluarkan mereka yang sedang bergembira
sebab tak ada telinga atau mulut lainnya, yang siap mendengar atau mengalahkan kata-katanya.
sepasang mata memandang jauh
hujan baru saja datang, suara ramai sekali
namun, suara di kepala tak mau kalah
titik-titik hujan semakin ramai menghujam tanah, membentuk gaduh berteman deru angin yang tiba-tiba datang
sang kata bersamaan berteriak meminta perhatian;
“keluarkan aku, biarkan aku bergabung dan bermain bersama hujan.”
-Shinohanna-

Pada Genggam

Bak Pangeran yang gagah dan tampan

Aku Putri yang kuat dan elegan

Berusaha menggenggammu dengan nyaman

Erat

Kamu tercekat

Reda

Aku mendamba

Sulit dimengerti

Pasti

Memahami,

Membaca, dan

Menjaga

Aku berusaha

Lalu lepas

Jauh dan bebas

Diam

Cukup dinikmati

Tidak

Jangan diraih

Hanya saja

Dinanti

Sampai hukum gravitasi menyumpahi

Pada genggamku kamu kembali

Rifle

Memori

baru saja kutemukan
tiap ketukan, tiap jenjang ingatan
tiap irama, satu suara kita
hanya saja, aku lupa bagaimana dan harus apa
dirimu tak kutemui di tiap jadwal latihan
hingga rupamu, rupaku, rupa-rupanya pura-pura lupa
hingar-bingar lampu malam, membentuk bayang-bayang begitu banyaknya
mungkin sedikit yang tahu, yang memperhatikan, ketika cahaya menelan tiap bayang diri kita!
satu detik berlalu
baru saja kutemukan
dan aku lupa ingatan
-Shinohanna-