Thailand and Its Process

Malam ini masih panjang, dan saya sibuk menghabiskan sebagian yang tersisa dengan membuka sosial media. Dan tiba-tiba rindu. Entah kenapa malam ini banyak foto-foto tentang Thailand dan prosesnya, bertebaran di beranda sosial media. Dan saya rindu. Rindu dengan Thailand dan segala proses beratnya, rindu dengan segala hal yang mewarnai proses menuju ke sana. Saya rindu dengan orang-orang yang membersamai proses menuju Thailand, rindu dengan tawa dan airmata yang silih berganti mewarnai hari-hari panjang menuju kompetisi.

Thailand dan prosesnya tidaklah mudah untuk saya, karena saya mengawali ini untuk sekedar berlari dari sepi, namun yang saya dapat adalah waktu yang tersita habis, jauh dari teman-teman saya, mengurangi waktu bertemu keluarga saya, menguras habis tenaga dan airmata saya. Thailand dan prosesnya, memberikan lebih banyak dari yang saya minta. Terlepas dari segala drama, Thailand dan prosesnya memberikan warna baru untuk saya, membangunkan saya lebih pagi, membuat saya bergerak lebih banyak, berbicara lebih sering, dan tertawa lebih keras dari biasanya.

Thailand dan prosesnya adalah ibu yang melahirkan saya yang baru. Saya yang belum pernah ada. Saya yang akhirnya mau belajar tentang hal baru yang belum pernah saya tahu, tidak hanya musik pun visual, tapi soal hidup. Karena Thailand dan prosesnya adalah guru terbaik yang pernah ada.

 

Di Kamar Kos yang Sepi

Surakarta, 18 Maret 2018