Serah Terima Jabatan Pengurus MB UNS Periode 2018

Marching Band Sebelas Maret Surakarta telah resmi menyerahkan jabatan kepengurusan kepada susunan pengurus baru. Acara ini dilaksanakan secara formal dan dihadiri oleh pembina, MPA, DPA, pengurus, anggota,  dan purnabakti Marching Band Sebelas Maret Surakarta, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni serta tamu undangan dari organisasi mahasiswa UNS.

Pukul 14:00 WIB, acara dimulai oleh MC kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tak lama kemudian, pengurus baru MB UNS bersama-sama membacakan ikrar pengurus di podium. Setelah itu ketua periode sebelumnya menyerahkan jabatannya kepada ketua periode selanjutnya. Acara terakhir yaitu sambutan-sambutan, dari ketua panitia, ketua MB UNS demisioneer, ketua MB UNS, pembina MB UNS, dan Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni. Acara ditutup dengan foto bersama MPA, DPA, pengurus, dan pembina MB UNS periode 2018.

 

Berikut adalah Susunan Pengurus MB UNS Periode 2018 :

Ketua : Septiana Nisaa Adisetyawati (Angkatan 30)

Sekretaris 1 : Rindi Lilin Wandira (Angkatan 30)

Sekretaris 2 : Husnayaini Dhiya Abshari (Angkatan 31)

Bendahara 1 : Desi Kumalasari (Angkatan 30)

Bendahara 2 : Nada Sintya Anisa (Angkatan 31)

Ketua Bidang Teknis : Alvio Putri Matahari (Angkatan 30)

Kepelatihan : Dimas Reinhart Saputra (Angkatan 30)

Staff Peralatan dan Perlengkapan :

  • Aprilia Christina Wardhani (Angkatan 31)
  • Bintang Ramadhan (Angkatan 31)
  • Muhammad Annas (Angkatan 31)
  • Siti Uswatun Chasanah (Angkatan 31)

Staff Kostum :

  • Aprilia Krismonita (Angkatan 31)
  • Noor Hidayanti (Angkatan 31)
  • Windarti (Angkatan 31)

Ketua Bidang Non Teknis : Masadya Winacanti Ruslina  (Angkatan 30)

Staff Non Teknis :

  • Muthiah Kumalasari Farid (Angkatan 31)
  • Noryuliyanti (Angkatan 31)

Ketua Bidang Humas : Tiffany Elinda  (Angkatan 30)

Staff Humas Intern : Nova Intan Kemala  (Angkatan 31)

Staff Humas Ekstern : Linggar Mayza Pradhita  (Angkatan 31)

Staff Humas Kreatif :

  • Ardelia Yolanda Salsabella (Angkatan 31)
  • Husnayaini Ahya Ainan (Angkatan 31)

 

Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) :

  • Agung Faris Anugrah (Angkatan 29)
  • Puput Siti Nur’aini (Angkatan 29)
  • Ronna Qurrata Ayun (Angkatan 29)

Dewan Perwakilan Anggota (DPA) :

  • Muhammad Yusya Azhari (Angkatan 29)
  • Alfian Shidiq Nurrohim (Angkatan 29)
  • Dita Noviana (Angkatan 30)
  • Florean Hana Sabella (Angkatan 31)

 

 

Thailand and Its Process

Malam ini masih panjang, dan saya sibuk menghabiskan sebagian yang tersisa dengan membuka sosial media. Dan tiba-tiba rindu. Entah kenapa malam ini banyak foto-foto tentang Thailand dan prosesnya, bertebaran di beranda sosial media. Dan saya rindu. Rindu dengan Thailand dan segala proses beratnya, rindu dengan segala hal yang mewarnai proses menuju ke sana. Saya rindu dengan orang-orang yang membersamai proses menuju Thailand, rindu dengan tawa dan airmata yang silih berganti mewarnai hari-hari panjang menuju kompetisi.

Thailand dan prosesnya tidaklah mudah untuk saya, karena saya mengawali ini untuk sekedar berlari dari sepi, namun yang saya dapat adalah waktu yang tersita habis, jauh dari teman-teman saya, mengurangi waktu bertemu keluarga saya, menguras habis tenaga dan airmata saya. Thailand dan prosesnya, memberikan lebih banyak dari yang saya minta. Terlepas dari segala drama, Thailand dan prosesnya memberikan warna baru untuk saya, membangunkan saya lebih pagi, membuat saya bergerak lebih banyak, berbicara lebih sering, dan tertawa lebih keras dari biasanya.

Thailand dan prosesnya adalah ibu yang melahirkan saya yang baru. Saya yang belum pernah ada. Saya yang akhirnya mau belajar tentang hal baru yang belum pernah saya tahu, tidak hanya musik pun visual, tapi soal hidup. Karena Thailand dan prosesnya adalah guru terbaik yang pernah ada.

 

Di Kamar Kos yang Sepi

Surakarta, 18 Maret 2018

TEAMWORK: KAMU ITU PENTING!

Marching Band merupakan sebuah tim yang terdiri dari banyak individual untuk menampilkan musik dan visual. Dalam marching band, ada sebuah section yang memiliki anggota terbanyak, yaitu Brass. Semakin banyak orang, maka semakin sulit untuk menyatukan pikiran, bukan? Bagaimana dengan brass, yang terbagi menjadi beberapa sub-section yaitu high, middle, dan low brass? Pada artikel kali ini,  Humas MB UNS mewawancarai tiga narasumber terpercaya secara eksklusif, sebut saja Bapak, DC, dan PywareMan.

Pertanyaan pertama adalah mengapa setiap orang dibutuhkan dalam marching band? Bukankah anggota marching band sangat banyak, sehingga jika satu orang tidak ada maka tidak masalah?

Bapak berkata, jika ditanya apakah satu orang tidak hadir tidak apa-apa maka bisa dibilang tidak apa-apa, namun yang menjadi apa-apa adalah ketika kita mempertimbangkan efek dari ketidakhadiran salah satu komponen dalam latihan ternyata sangat berpengaruh besar terhadap banyak tujuan yang ingin dicapai.

DC menjelaskan, kalau marching band tidak hanya tentang musik dan display, tapi juga tentang pendidikan, seperti bagaimana belajar bertanggungjawab dan bekerjasama. Lalu, bagaimana caranya tim tersebut dapat terbentuk jika ada seseorang yang tidak menempati posisinya. Misalnya dalam tim olahraga seperti sepak bola, voli, atau basket, yang dimainkan dengan jumlah tertentu. Jika ada satu orang yang hilang dan tidak menempati posisinya, tentunya akan menambah beban untuk anggota tim yang lain.

Kemudian PywareMan menyampaikan, dalam marching band anggota dituntut untuk satu komando dan satu suara. Cara berjalan diatur, semua diatur. Sehingga jika salah satu orang tidak ada, maka akan berpengaruh secara mental terhadap anggota yang lain.

Lalu bagaimana dalam bidang teknis? Pertanyaan ini mungkin lebih fokus terhadap section brass, karena brass adalah section dengan anggota terbanyak.

Menurut Bapak, secara teknik semua komponen dapat dipastikan mencapai target materi dengan latihan yang sesuai. Namun karena marching band adalah satu kesatuan, maka semua bentuk kegiatan yg tercipta didalamnya sudah pasti dibuat untuk dicapai dan dijalani bersama. Jadi kalau satu orang tidak datang mungkin tidak apa-apa, tapi untuk latihan selanjutnya semua orang yang telah hadir sebelumnya akan merelakan latihan untuk mengulang materi demi orang yang tidak hadir dalam latihan. Target akan mundur, tidak tercapai sesuai waktu yang diharapkan karena harus mengulang-ulang materi yang sama.

Lalu menurut PywareMan dari segi teknis lapangan, satu manusia itu berpengaruh di lapangan, terlebih dalam hal visual. Visual di lapangan membutuhkan banyak orang. Jikalau musik ada hal yang disebut lip-sync, visual tidak bisa di-lip-sync-kan. Marching band membutuhkan kuantitas. Semakin banyak kuantitas semakin baik. Misalnya saja komposisi brass 60 orang dengan brass 40 orang akan terasa berbeda dari segi musikalitasnya juga. Namun secara kualitas tidak bisa ditentukan berdasarkan kuantitas. Yang jelas, tiap-tiap orang menentukan kualitas satu section tersebut.

Kemudian menurut DC, setiap arranger atau musisi memiliki aturan standar untuk jumlah orang dalam komposisinya. Misalnya saja trumpet di set untuk dimainkan oleh 18 orang dengan pembagian 6-6-6. Ketika satu orang tidak ada, maka komposisinya akan berubah menjadi 6-6-5 dan  keseimbangannya akan berantakan. Beda halnya jika memang sudah dilatih untuk komposisi 6-6-5, mungkin keseimbangannya bisa dilatih dari awal dengan diakali untuk sub-section yang hanya ada lima orang agar menaikkan volume suaranya.

Adakah kata-kata yang ingin disampaikan kepada anggota tim yang sedang berproses?

PywareMan menyampaikan, di Marching Band Sebelas Maret ada slogan “esprit de corps” sebagai pemersatu. Slogan yang artinya rasa bangga, semangat juang, dan loyalitas terhadap tim harus diterapkan sebagai jati diri bersama.

Bapak berkata, kehadiran seseorang bisa menjadi tidak berarti apa-apa atau bahkan bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi apa-apa. Ketidakhadiran yang tidak jelas terutama akan menularkan virus yang sama. Mengakibatkan orang yang sedang dalam proses latihan juga terpengaruh. Mungkin akan ada beberapa pemikiran yang berbeda dari setiap orang yang hadir dalam proses latihan. Bisa jadi orang tersebut berpikir, ‘enak ya gak latihan, disini yang latihan capek capek eh dianya enak enakan main.’ Adapula mungkin yg berpikir positif. Namun pemikiran tersebut tidak akan tercipta jika ketidakhadiran seseorang jelas keterangannya. Tidak menimbulkan asumsi-asumsi.

Jadi kalau mau tidak hadir ya mungkin bisa berpikir dulu. Setelah berpikir, lalu pikirkan lagi. Setelah dipikirkan lantas pikirkan lagi. Pokoknya pikir aja terus. Apakah sudah pantas tidak hadir latihan dengan memikirkan banyak pertimbangan efek efek yang akan timbul kedepannya. Berkaca juga mungkin ya. Kalau ingin meninggalkan latihan, coba dipikir saat kita latihan apakah kita juga mau ditinggalkan.

“Udah cukup kenangan aja yang pergi, kamu jangan.”

WGI Thailand Championship 2017

WGI Thailand Championship 2017 merupakan sebuah kompetisi color guard, wind dan percussion yang diikuti oleh Sekolah Menengah Atas (SMA), Universitas dan Umum, dengan pembagian 2 Divisi, yakni Scholastic dan Independent. Peserta WGI Thailand Championship 2017 berasal dari Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Philippines.Peserta dari Indonesia antara lain Universitas Sebelas Maret dan Universitas Indonesia.

Dua perwakilan dari Indonesia ini mengikuti dua kategori yang sama, yaitu Winds Independent Open dan Color Guard Independent Open. Madah Bahana Universitas Indonesia menggunakan tema “What A Day!” untuk kedua kategori sedangkan Universitas Sebelas Maret menggunakan tema Tom and Jerry untuk Winds dan Aether untuk Color Guard Contest.

WGI Thailand Championship 2017 diadakan pada 15-17 Desember 2017 di Vi Sommai Stadium, Sisaket, Thailand. WGI Thailand Championship 2017 bekerja sama dengan Thailand World Music Championship 2017 yang diadakan pada tanggal yang sama di Sisaket New Stadium, Sisaket, Thailand.

Winter Guard International (WGI) adalah sebuah organisasi marching band yang berpusat di Amerika Serikat yang berdiri sejak 1977, karenanya keseluruhan Dewan Juri yang terlibat dalam kegiatan ini merupakan Juri Internasional yang berasal dari Amerika Serikat.

Winter Guard International

Winter Guard International (WGI) adalah organisasi seni pertunjukan visual yang menyelenggarakan kompetisi nasional, regional, serta internasional. Organisasi menetapkan peraturan dan kriteria standar, menyediakan klinik dan sumber daya pendidikan, dan mengelola kompetisi dalam skala regional, nasional, dan internasional untuk winter guard, indoor percussion ensembles, dan winds. Markas besar WGI terletak di Dayton, Ohio. WGI diciptakan sebagai perantara kompetitif untuk seni pertunjukan.

Terdapat dua divisi untuk setiap kategori, yaitu Scholastic dan Independent. Scholastic ditujukan kepada para siswa sekolah menengah, dan Independent ditujukan kepada para mahasiswa universitas. Untuk setiap divisi terbagi menjadi tiga kelas, yaitu A Class atau beginner, Open Class atau intermediate, dan World Class atau superior.

Setelah mengikuti kompetisi regional, terdapat beberapa tim yang bisa mengikuti World Championship setiap bulan April. Untuk setiap tim, diberikan satu kesempatan kepada salah satu member untuk mendapat kesempatan meraih beasiswa. Telah lebih dari $500.000 USD atau sekitar 6,7 milliar rupiah yang diberikan hingga tahun ini.

Untuk pertama kalinya, Kontes WGI Asia di gelar tahun 2015 di Malaysia dan Thailand. Kemudian pada Tahun 2016 WGI pun diadakan di Indonesia. Menginjak tahun ke-40 pada tahun ini, telah lebih dari 36.000 peserta pada level regional, dan lebih dari 12.000 peserta pada World Championship hingga bulan April lalu.