Placement Anggota Baru MB UNS

Minat dan bakat adalah suatu kesatuan yang dapat mengarahkan seseorang dalam menentukan pilihannya pada keinginan tertentu dan untuk keperluan pengembangan diri. Sebelum menentukan pilihan ini, seseorang harus mengetahui potensi yang ada pada dirinya sendiri, sehingga mampu mengembangkan potensi tersebut dengan maksimal.  Sama seperti halnya dengan   placement anggota baru MB UNS. Placement atau dalam Bahasa Indonesia adalah penempatan merupakan suatu kegiatan untuk memposisikan seseorang dengan tepat dan sesuai dengan minat, bakat, serta kemampuan yang dimiliki. Kegiatan placement di MB UNS sendiri dilakukan sekali dalam setahun yang mana kegiatan ini bertujuan untuk menempatkan anggota baru MB UNS pada section yang sesuai dengan minat dan bakat yang mereka miliki.

                 Placement di MB UNS dilakukan dengan tes yang mana setiap anggota baru MB UNS diuji pada setiap section. Tentunya, placement ini dilakukan secara jujur, adil, objektif, dan transparan. Berikut ini adalah langkah-langkah placement anggota baru MB UNS :

  1. Mengisi formulir placement

          Pada tahap ini, anggota baru MB UNS atau dapat disebut sebagai peserta placement mengisi formulir yang telah disediakan . Formulir ini berisi semua data dari nama lengkap hingga motivasi mendaftar MB UNS. Dalam formulir ini, peserta placement juga mengisi pengalaman di Marching Band dan section yang pernah mereka ikuti. Lalu apakah yang tidak memiliki pengalaman di Marching Band boleh mendaftar? Tentu saja sangat boleh, di MB UNS ini, setiap anggota pasti akan diajari dari basic skill terlebih dahulu. Jadi, tidak perlu khawatir, jika belum berpengalaman di Marching Band.

          Di formulir ini juga, terdapat pilihan section yang mana peserta placement dapat memilih 2 section yang diminati. Mereka juga diharapkan untuk mengisi alasan memilih section tersebut. Selanjutnya, formulir ini dilampiri dengan foto yang tampak dari lutut hingga kepala.

  • Test placement

          Pada tahap test placement, peserta placement akan mengikuti rangkaian tes kemampuan masing-masing individu. Wah, nakutin nggak kak? Tenang, di sini, nggak ada yang perlu ditakutin kok. Pada tahap ini, pelatih atau dalam placement ini adalah seorang penguji, hanya ingin mengetahui kemampuan yang dimiliki anggota baru MB UNS, sehingga dapat menempatkannya pada section yang sesuai. Sebelum mengikuti tes, pelatih setiap section akan memberikan contoh terlebih dahulu materi yang akan dites. Kemudian, peserta placement melakukan hal yang telah dicontohkan oleh pelatih. Di sinilah, pelatih akan menilai peserta placement. Pelatih atau penguji akan menilai peserta placement sesuai dengan kriteria penilaian yang ada.

  • Pengumuman

          Setelah dilakukan test placement, pelatih akan melakukan plotting sesuai dengan penilaian yang telah dilakukan. Kemudian, plotting ini akan diumumkan kepada seluruh anggota baru MB UNS.

                 Nah itulah seputar placement di MB UNS. Jadi, sudah tahu kan kenapa ada placement dan bagaimana sih placement di MB UNS itu?

APA SAJA JENIS MARCHING BAND?

Kalian tahu gak sih kalo marching band ternyata ada beberapa variasi dengan gaya dan tradisinya masing-masing? Cari tau bareng-bareng yuk!

1. The Military Band

Band militer memiliki ciri barisan lurus dan terorganisasi yang bergerak ke arah depan dengan susunan rapi dan tepat, sangat menekankan keseragaman gaya visual, dan sering memainkan lagu-lagu nasional atau patriotik.

Pada awalnya, band militer berasal dari negara Perancis dan Jerman sekitar pertengahan abad ke-19 yang kemudian dibawa ke Amerika sebagai penyemangat saat perang revolusi. Sejak saat itu, military band menjadi populer dan berkembang pesat. Kelompok awal yang terbentuk memiliki nama The United State Marine Band (1880-1892).

Military band saat itu menggunakan alat musik sederhana, yaitu 2 oboe, 2 clarinet, 2 french horn, 2 fagot, dan 1 bass drum.

 

2. The Drum and Bugle Corps

Jenis marching band ini mengambil beberapa elemen dari military band dan menambahkan ciri unik mereka sendiri pula. Drum and Bugle Corps menerapkan unsur militer yang teratur dan mengimprovisasi formasi organik, bahkan membentuk pola gambar. Gerakannya pun lebih bebas; maju, mundur, dan meluncur. Perbedaan lainnya dari military band, Drum and Bugle Corps terdiri dari alat musik tiup berbahan kuningan dan perkusi.

Untuk musik yang dimainkan, kelompok ini membuat repertoar dengan tema bervariasi dari klasik, jazz, bahkan soundtrack film. *FYI, repertoar itu artinya daftar rencana permainan musik yang akan dibawakan dalam suatu pertunjukkan.

 

3. Traditional Style Band

Jenis ini dapat dikatakan paling populer dalam budaya perguruan tinggi. Di Amerika, Traditional Style Band akan tampil di babak pertama pertandingan sepak bola. Mereka tetap memegang teguh tradisi dari jenis sebelumnya, tetapi juga menambahkan suara yang edgy dan musik kontemporer. *FYI: Edgy dalam bahasa gaul bermakna gaya yang tidak biasa / menimbulkan tren sendiri.

Traditional Style band memiliki repertoar yang lebih condong ke musik populer. Sementara itu, untuk alat musik yang digunakan lebih bervariasi dan mengikuti kebijakan masing-masing kelompok. Mereka dapat menggunakan woodwind, brass, drumline, dan color guard.

PESAN KOMUNIKASI NON VERBAL PADA SENI MARCHING BAND

Marching band merupakan seni modern yang menghasilkan efek tertentu bagi pemain dan penonton melalui alunan musik dan pesan yang disampaikan. Dalam penampilannya, marching band memiliki “general affect”. Wah, nemu istilah baru lagi nih! Jadi, “general affect” itu adalah perpaduan aspek musikal dan visual yang menimbulkan pengaruh emosional dari pesan yang dibawakan. Besarnya pengaruh yang dihasilkan tergantung dari perencanaan, teknik pengolahan, dan bagaimana pelaksanaannya.

Bahasan pertama, terkait dengan aspek musikal. Banyak dari kalian pasti sudah tidak asing dengan sebutan bahwa musik merupakan bahasa universal yang artinya akan sangat terikat antara pencipta, pemain, dan pendengar. Nah, dengan adanya pertunjukkan marching band yang tentunya akan memiliki tema yang biasanya selalu berbeda, maka akan tersusun lah aransemen musik sesuai tema yang dibawakan. Suasana gembira, semangat, sedih, mengharukan, dan lain sebagainya dapat mudah terbaca dari permainan alat musik marching band.

Aspek musikal memang penting. Akan tetapi, aspek visual menjadi aspek pendukung vital, bagaimana komunikasi non verbal dibawakan dalam pertunjukkan. Marching band menampilkan komunikasi non verbal berbentuk gerakan tubuh, penggunaan kostum, simbol warna-warna, dan mimik wajah. Yuk, coba kita bahas.

1. Gestur

Gestur memiliki pengertian suatu bentuk komunikasi non-verbal dengan aksi tubuh yang terlihat mengomunikasikan pesan tertentu, baik sebagai pengganti bicara atau bersamaan dan parallel dengan kata-kata. Dalam marching band, gestur terbaca jelas pada seorang field commander (pemimpin yang memberi aba-aba kepada seluruh player). Aba-aba siap untuk mulai, tempo musik, dan yang lainnya akan dikendalikan oleh field commander. Player harus dapat memfokuskan diri pada setiap instruksi yang diberikan agar tidak terjadi miss communication.

2. Kostum

Kostum merujuk pada pengaturan artistik aksesoris pada suatu pertunjukkan yang menimbulkan kesamaan tema pada pakaian. Dengan adanya kostum, maka terlihat bahwa satu unit marching band lebih siap dalam menampilkan penampilan terbaiknya dan terkesan gagah ketika berada di arena pertunjukkan. Intinya, kostum berperan penting dalam meningkatkan percaya diri player dan membawa citra yang baik pula pada kelompok marching band.

3. Koreografi

Koreografi disebut juga sebagai komposisi tari merupakan seni merancang alur sehingga membentuk pola gerakan yang terstruktur. Wah, kalau ini sih, langsung ingetnya ke section Color Guard deh pasti! Yaaa bener banget, color guard memang sepenuhnya menampilkan koreografi dalam pertunjukkan. Tapi, section lain seperti Brass dan Battery juga biasanya akan menampilkan banyak pola gerakan saat berada dalam pertunjukkan. Koreografi diperlukan untuk menimbulkan kesan dinamis dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan.

4. Visualisasi Warna

Warna dapat ditunjukkan pada kostum, bendera, maupun aksesoris atau hiasan lain ketika penampilan marching band. Warna seperti yang umumnya diketahui memiliki makna tersendiri. Sebagai contoh, untuk menyimbolkan suasana marah atau tegang, warna merah akan cocok untuk digunakan atau ketika suasana yang ingin disampaikan adalah bahagia, ceria, dan semangat, warna kuning akan cocok untuk menyampaikan pesan tersebut.

PERAN PEMIMPIN DALAM KOHESIVITAS KELOMPOK MARCHING BAND

Marching band bila dilihat dari aktivitasnya menggabungkan kelompok musikal, visual dan keseragaman disiplin militer. Dengan beragamnya anggota yang menjadi satu kelompok, maka penting untuk memperhatikan kohesivitas. Apa tuh kohesivitas? Kohesivitas itu artinya daya tarik baik positif ataupun negatif yang menyebabkan anggota kelompok bertahan dalam kelompok tersebut. Dalam pengertian menurut pendapat ahli lain, kohesivitas adalah suatu kualitas ketergantungan satu sama lain antar anggota kelompok. Individu yang berkompeten; yang memiliki kelompok yang terikat secara sosial, tidak hanya berkonsentrasi pada kerja sendiri-sendiri atau individu tetapi juga pada kelompoknya.

Kohevisitas sebenarnya bukan yang dibawa dalam kelompok tapi sebagai sesuatu yang berkembang dan terjadi dalam kelompok. Oleh karena itu, seorang pemimpin dapat memengaruhi dan menginspirasi anggotanya untuk mau belajar dan bekerja dalam kelompok marching band. Pemimpin lah yang berperan penting menyatukan tingkah laku para anggota yang berbeda-beda dan yang mengambil peran besar dalam pertumbuhan perkembangan marching band. Akan tetapi, dalam menjalankan tugas tersebut, pemimpin pasti akan menemukan konflik yang muncul dalam organisasi, baik dengan sesama pesesame, maupun anggota lainnya. Konflik biasanya terjadi karena adanya perbedaan pendapat, yang mana jika hal ini terjadi berkepanjangan, maka membawa suasana negatif dalam kelompok. Dengan demikian, seorang pemimpin harus mampu untuk mengelola dan mengatasi konflik.

Peran kebersamaan dan kerjasama antar anggota organisasi dalam melaksanakan bahkan menyelesaikan tugas dengan baik sangat dilihat dari kohesivitas kelompok organisasi dan peran pemimpinnya. Pemimpin diharapkan bertindak secara positif sehingga efek positif juga tersebar keada para anggota untuk tetap bertahan dan tertarik dalam kelompok marching band. Sementara itu, kohesivitas kelompok dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut.

  1. Lamanya waktu berada bersama dalam kelompok. Makin lama berada di dalam sebuah kelompok, makin saling mengenal satu sama lain, dan makin timbul juga sikap toleran dan mau berkembang bersama.
  2. Penerimaan di masa awal. Biasanya, para anggota kelompok yang lama akan menguji anggota baru dengan cara-cara yang khas.
  3. Ukuran kelompok. Maksudnya, makin luas circle kelompok, maka akan semakin sulit terjadi interaksi yang intensif .
  4. Produktivitas kelompok. Kelompok dengan keeratan yang lebih besar akan menghasilkan sesuatu yang lebih produktif

Sebagai tambahan, masing-masing anggota juga bisa loh berperan penting dalam menjaga kohesivitas marching band! Beberapa caranya yaitu setiap individu memiliki kemampuan pikir yang inisiatif, mementingkan kelompok, mengemukakan pendapat, menunjukkan sikap sopan kepada orang lain, menahan amarah, bertanggung jawab, enjoy dalam menjalani pekerjaan, menaati peraturan kelompok, dan mampu menyesuaikan diri.

MARCHING BAND SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN BERKARAKTER

Perkembangan marching band di Indonesia selama 10 tahun terakhir mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya jumlah unit di seluruh Indonesia. Trend akan adanya kegiatan positif di sekolah dan lingkungan masyarakat mendorong berbagai pihak untuk mendirikan organisasi marching band yang nantinya akan menampung anak muda dalam berkarya di bidang seni.

Secara umum, Marching band adalah perpaduan musik, baris-berbaris, gerak tari, dan irama. Walaupun berbau militer dari segi baris-berbaris, namun sebagian besar dari tema pagelarannya menjurus pertunjukan seni. Seperti halnya sebuah pementasan seni di atas panggung, maka pertunjukan marching band di Indonesia telah mengadopsi konsep panggung yang diaplikasikan di lapangan, dimana banyak tema broadway yang dipakai di marching band. Salah satu tema yang memungkinkan untuk diaplikasikan dalam pertunjukkan marching band adalah kebudayaan, kesenian, dan karakteristik tradisional Indonesia. Baik musik, gerak tari dan budaya Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan tema dalam marching band. Penelitian yang dilakukan Zdzinski (2004) meyebutkan Marching Band berkontribusi positif terhadap peningkatan musikal, sosial, dan personal seseorang.

Beberapa manfaat yang didapat dalam kegiatan marching band dari beberapa aspek fungsi

1. Fungsi Kedisiplinan

Aturan baris-berbaris dalam marching band membutuhkan tingkat kedisiplinan yang tinggi sehingga mengikuti kegiatan ini dapat meningkatkan kedisiplinan individu. Budaya marching band tersebut dipakai oleh sekolah-sekolah di Amerika untuk meningkatkan motivasi, rasa tanggung jawab, dan kedisiplinan siswa sekolah (Rogers, 1985). Selain itu, kegiatan marching band berfungsi sebagai penyaluran agretivitas dan emosi remaja secara positif agar energi tersebut dipakai untuk mempelajari disiplin bermain musik dalam Marching Band. Kedisiplinan dapat mengubah perilaku buruk seperti lemah karakter dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya dengan melatih remaja untuk bersifat mandiri dan tepat waktu dalam berlatih.

2. Fungsi Kesenian

Marching Band modern mengolaborasikan kegiatan fisik (baris-berbaris membentuk konfigurasi), bermain musik orkestratif, dan gerak tari (olah tubuh). Mills (1988) berpendapat bahwa Marching Band harus memiliki 10 dimensi manfaat, 4 diantaranya berdimensi kesenian antara lain musical performance, musical aesthetics, musical achievement, dan musical development. Manfaat tersebut dapat menjadi solusi dari kekurangan pendidikan musik pada pendidikan formal di sekolah-sekolah di Indonesia. Sebagai tambahan, marching band juga berkaitan dengan seni tari kontemporer dan tradisional lewat gerak tari yang ditampilkan oleh color guard.

3. Fungsi Sosial

Manfaat marching band dalam aspek sosial sangat banyak dirasakan, antara lain peningkatan hubungan sosial, pencapaian tim, identitas institusi, peningkatan diri, peningkatan interpersonal skills, dan rekreasi. Kemampuan dalam berorganisasi juga didapatkan, seperti manajemen antar anggota, kepemimpinan, manajemen waktu, rekrutmen anggota, serta manajemen musik dan pelatihan. Poin yang tidak kalah penting adalah kesetiakawanan dan kerja sama dalam tim menjadi hal yang tentunya akan di dapat dalam kegiatan marching band.

Melihat beberapa manfaat yang diberikan oleh kegiatan marching band kepada tiap individu dan tim dapat diambil kesimpulan bahwa marching band dapat dijadikan salah satu wadah di sekolah dan universitas untuk mengembangkan potensi, kemampuan, dan karakter untuk anggotanya.